UA-24447797-3
Subscribe
Your Partner in Designing, Evaluating and Learning on Program and Policy

Berkenalan dengan Revolusi Data

revolusidata_logoRevolusi Data merupakan suatu inisiatif gerakan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mendukung pemantauan program Sustainable Development Goals (SDGs).

Berfokus pada empat bidang, yaitu Acccesible Data, Sustainable Development Goals, Data Innovation, dan Data Landscape, Revolusi Data bertujuan menguatkan sistem pendataan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, serta partisipasi masyarakat.

Monitoring atas pencapaian target-target SDGs membutuhkan data yang bermakna dalam mendukung keputusan-keputusan pembangunan. Data yang diperlukan harus aktual, bukan data sekedarnya yang mencerminkan tren historis.

Data yang ada pada saat ini umumnya kurang menggambarkan keadaan yang sebenarnya karena dikumpulkan tidak secara aktual. Contohnya seperti angka partisipasi sekolah yang umumnya dikumpulkan berdasar angka pendaftaran, sementara angka siswa yang benar bersekolah bisa berbeda jumlahnya.

Contoh lain terkait data jumlah orang yang terkena suatu penyakit menular. Karena perkembangan kasusnya tidak dicatat jam per jam melainkan hanya data bulanan misalnya, kita tidak tahu pasti berapa orang yang benar-benar terkena penyakit menular dan kapan saja mereka sembuh.

Dengan menerapkan Revolusi Data, siapa pun bisa membaca dan mengetahui suatu kasus atau kejadian dengan lengkap. Mulai dari awal, perkembangannya, hingga tahap akhir.

Data seperti itu sangat penting untuk pelayan masyarakat atau sukarelawan guna mengambil tindakan atau solusi segera sehingga masalah tidak berlarut-larut atau menjadi gawat.

Pola kerja Revolusi Data seperti itu kini telah ditunjang kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang menawarkan beragam inovasi pendataan.

Peluang lain untuk menerapkan Revolusi Data, seperti adanya sistem penyediaan layanan publik yang juga melibatkan relawan masyarakat atau kader-kader sehingga data segera bisa terkumpul.

Perbedaan Revolusi Data Dengan Data Konvensional

Data Konvensional Data Revolusi
Data direpresentasikan dalam bentuk data agregat Data direpresentasikan dalam bentuk data tunggal dengan data agregat sekaligus.
Data dibuat dalam satu kali jadi. Misalnya dengan suatu sensus yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Data dibuat secara incremental, tidak harus sekali jadi. Dalam hal ini setiap data baru yang masuk akan diagregasi secara otomatis oleh komputer.
Jika akan dilakukan pembaharuan data, update data harus dilakukan terhadap seluruh data. Update data dapat dilakukan berkali-kali.
Jika akan dilakukan verifikasi untuk meningkatkan kualitas data, maka penelusuran kembali atas data tidak mudah dilakukan. Penelusuran / verifikasi terhadap data dapat mudah dilakukan karena penelusuran dilakukan terhadap data tunggal.

Untuk pembangunan, Revolusi Data berguna untuk memacu akselerasi pemerintah dalam membuat keputusan. Misalnya di suatu daerah diketahui ada kasus jumlah ibu hamil beresiko tinggi yang angkanya lebih dari jumlah biasanya.

Keterlambatan pemerintah mengetahui adanya kebutuhan kelompok-kelompok masyarakat di lokasi tertentu untuk segera mendapat prioritas pembangunan, seringkali terjadi karena acuan yang dipakai berupa data konvensional.

Fungsi lain dari Revolusi Data yaitu meningkatkan ketepatan sasaran pembangunan, karena pendataannya bisa menyuguhkan kondisi terkini hingga per individu warga. Salah sasaran dalam perencanaan atau implementasi pembangunan bisa diakibatkan karena data yang dipakai tidak lagi faktual dan aktual.

Di sisi lain, Revolusi Data juga bermanfaat untuk menjaring partisipasi publik dalam pembangunan. Warga bisa ikut segera membantu sesamanya yang kesulitan. Adapun pasokan informasi data dari publik bisa dipakai pemerintah untuk kajian survei atau sensus sehingga bisa mengurangi anggaran kerja.

Sinergantara yang ikut aktif mengkampanyekan Revolusi Data, telah membangun pilot project Revolusi Data bersama pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Program yang masih berjalan itu sekarang berupa pengumpulan data dari setiap Dasa Wisma atau sub-desa. Data-data dari setiap dasa wisma tersebut kemudian akan diagregasi pada setiap desa secara otomatis.

Kemudian secara berjenjang, data-data dari semua desa juga akan diagregasi otomatis ke dalam data kabupaten.

Jadi, misalnya saat ada seorang warga melahirkan, bayinya akan tercatat di sistem pendataan Dasa Wisma, lalu datanya saat itu juga bergerak hingga masuk ke sistem data kabupaten. Secara otomatis perubahan tersebut langsung menambah jumlah penduduk Kabupaten Bojonegoro pada saat itu juga.

Kabupaten Bojonegoro merupakan satu-satunya daerah di Indonesia yang terpilih oleh Open Government Partnership (OGP) sebagai wilayah pilot project internasional tersebut. Hasil uji coba dan pelaksanaan Revolusi Data ini ditargetkan dapat menjadi model internasional untuk Data for Development. (*)

This post is also available in: English

Leave a Reply

Current month ye@r day *

ENGLISH